TIDAK PERLU BERLEBIHAN MENGELUARKAN PERNYATAAN DALAM MENANGGAPI KEDATANGAN PARA PERANTAU



                      Foto Bpk. Benediktus Arjon

Hingga saat ini,  NTT masih 0 kasus positif COVID-19. Tentu kita semua  sangat bersyukur dengan kabar seperti  ini. Apalagi kita yg sedang berada di tanah perantauan senang sekali. Sebab, kabar  tersebut menjamin  kesehatan dan keselamatan bagi seluruh keluarga di NTT dan khususnya yg berada di Manggarai.  Apalagi virus ini bukan main-main, hampir semua dari kita, sudah mengetahui bagaimana akibat yg dialami jika terpapar oleh pandemi yg membahayakan sekaligus mematikan ini.

Namun, hingga saat ini Saya masih memiliki asumsi yg liar, bahwa kabar 0 kasus positif COVID-19 ini tidak berbanding lurus dengan penyedian alat kesehatan yg ada serta gelombang massa yg terus berdatangan  dari tempat perantauan. Lalu apakah penyedian alat kesehatan yg memadai  dapat memastikan sesorang terpapar virus atau tidak? Iya pasti sangat menentukan. Lalu, bagaimana dengan para perantau yg terus berdatangan, apakah dapat membawa virus? Bisa iya, bisa juga tidak! Tergantung hasil deteksi dari alat kesehatan yg ada. Jika alat kesehatan lengkap atau memadai, maka dapat dipastikan hasilnya bukan abu-abu, tetapi benar-benar sahih.


Pulang kampung di saat situasi bangsa seperti ini, merupakan suatu keputusan yg sebenarnya tidak diambil. Mengapa? Karena ragam risiko yg perlu dipertimbangkan, baik terpapar virus dalam perjalanan, maupun dampak psikologis yg harus diterima, di mana munculnya komentar-komentar di berbagai media sosial yg  melarang para Perantau pulang kampung  karena diduga dapat membawa virus ke kampung halamannya. Namun, dengan segala risiko tersebut,   para perantau tetap memilih jalan tersebut demi kesehatan dan keselamatan hidup mereka sendiri.

Lantas bagaimana respons masyarakat.  terhadap kedatangan para perantau?  Sebenarnya menurut hemat saya, kita sesama orang Manggarai, yg sama-sama lahir besar di Manggarai, dan tentu lahir dari berbagai budaya yg sama. Maka sebaiknya tidak perlu berlebihan mengeluarkan pernyataan dalam menanggapi kedatangan para perantau. Sebab, kita semua sama, sama-sama tidak tau,  mana orang yg sudah positif dan mana yg tidak. Lantas bagaimana kita bisa mengetahuinya? Iya, tentu melalui mekanisme kesehatan. Bukan melalui dugaan karena ketakutan atau kepanikan yg merajai hidup kita.

Berangkat dari minimmya ketersedian alat kesehatan serta  gelombang massa yg terus berdatangan dari perantauan. Maka sebaiknya kita secara bersama-sama  mendorong Pemerintah Daerah untuk mengeluarkan kebijakan-kebijakan yg cerdas dan bijaksana dalam penanganan COVID-19 ini. Termasuk mendorong penyediaan sejumlah Alat Pelindung Diri (APD) dalam melakukan rapid tes antibodi atau tes swab. Sehingga masyarakat sangat terbantu dan tidak saling menduga, tidak  menjustifikasi orang lain hanya karena datang dari zona merah serta paling urgen adalah menghindari terjadinya konflik horizontal akibat pikiran-pikiran yg liar yg berdampak terhadap psikologis seseorang (perantau).

Sekian,  salam!
Beni Arjon

Komentar